Pertemuan Tenun & Batik

April 26, 2009 at 4:50 am Leave a comment

Memberi panggung untuk produk Nusantara secara ajek adalah salah satu cara meningkatkan penerimaan oleh konsumen, apalagi bila produk itu dipakai para sosialita dan ibu yang selalu tertata rapi riasan rambut, wajah, dan busananya.

Dalam pameran ”Beyond Fashion, Art to Wear” yang diadakan Wastraprema dua minggu lalu di Jakarta, para ibu pengurus Wastraprema selalu berpakaian busana Nusantara, dengan kain dari sejumlah daerah Indonesia.

Di bagian pameran, ada upaya memperkenalkan kain daerah yang belum begitu terkenal di Jakarta. Di gerai milik Samuel Wattimena, misalnya, perancang ini membawa tenun Tanimbar yang dibuat di Ambon untuk memudahkan komunikasi dengan perajin.

Meskipun masih memakai motif asli, tetapi ketebalan benang sudah dikurangi sehingga kain jatuh lebih lembut. Samuel juga menambahkan bordir. ”Supaya yang belum pernah melihat merasa ada kedekatan,” kata Samuel.

Di gerai Rumah Pesona Kain dipamerkan kain tenun dari Jambi, antara lain songket, yang belum banyak dikenal di Jakarta. Di gerai Oscar Lawalata dipamerkan hasil kerja sama perancang ini dengan perajin tenun Nusa Tenggara Timur, dalam bentuk kain tenun maupun pemanfaatannya ke dalam busana.

Pemakaian kain tenun dari sejumlah daerah itu pula yang dipamerkan Oscar Lawalata dalam pergelaran busana di sela-sela kegiatan pameran. Oscar menggunakan kain sarung dan ikat dari Makassar serta batik Pekalongan untuk pergelaran hari Minggu (19/4).

Tenun juga menjadi pilihan Dina Midiani. Perancang yang selama ini fokus pada ekspor, kali ini memperkenalkan jaket panjang berbahan batik yang dipadukan dengan tenun Lombok dalam warna cerah. Tabrak motif ini ternyata juga bisa tampil harmonis ketika pikiran kita lebih terbuka terhadap hal-hal baru.

Yang menarik adalah kesertaan Malaysia dan Filipina dalam pergelaran ini. Edric Ong dari Malaysia memperkenalkan tutup kepala dalam rancangannya, sejalan dengan ikon utama pameran Wastraprema kali ini, tutup kepala.

Dan, tentu saja batik masih tetap menjadi bahan garapan yang menarik seperti ditawarkan Didi Budiardjo untuk seri busana anak, Lenny Agustin yang mengambil batik Pekalongan dan Sidoarjo untuk inspirasi Afrika yang berbau alam liar, dan Carmanita yang memadukan batik dengan teknik sibori yang melibatkan, antara lain, teknik ikat dan tritik.

Getok tular adalah promosi yang ampuh saat ini, lebih-lebih bila semua mau memakai karya sendiri. Para sosialita dan ibu-ibu yang dandanannya tertata rapi akan menjadi maneken paling ampuh bila mereka memakai karya bangsa sendiri juga dalam acara arisan atau makan siang bersama klien. Dan, supaya adil, produsen dan perancang busana juga harus menawarkan barang berkualitas dengan harga pantas.

[by kompas.com]

Entry filed under: Artikel. Tags: , .

Batik Gedog Tulis Motif Uget-uget Merah Maroon Batik Tuban Merupakan Batik yang Paling Khas di Jawa Timur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Chat With Us

Click Here to Find Out

Semua Tentang Batik About Batik
Batik Tulis Tuban - Ready Stock Batik Tulis Tuban - Ready Stock
Tips Perawatan Osteoporosis theosteoporosistreatment
Dapatkan email marketing Gratis!!!

Tubanstore mengucapkan :

Selamat Hari Batik Tanggal 2 Oktober

Blog Stats

  • 46,303 hits

RSS News


%d bloggers like this: